jump to navigation

Pindah ;) September 28, 2009

Posted by ranystarry in Inside my mind.
4 comments

Anak Kecil Penjual Es Krim September 25, 2009

Posted by ranystarry in Inside my mind.
3 comments

anak_kecil_penjual_eskrimWaktu ke pantai aku perhatikan anak kecil penjual es krim wall’s itu. Yang kebayang olehku, pastinya hidupnya jauh lebih berat dari hidupku. Mungkin saja orang tuanya udah gak kuat lagi cariin uang buwat dia, sehingga dia harus berjualan seperti itu. Melihat tampangnya yang polos saat ada pengunjung yang membeli es krimnya, aku jadi terharu dan merasa malu. Dia menjalani kehidupannya yang seperti itu dengan sabar, sedangkan aku, dengan kehidupanku yang bisa dibilang lebih beruntung daripada dirinya, lebih sering mengeluh. Ada masalah sedikit saja langsung merasa menderita, padahal itu kalau dipikir benar-benar, itu gak seberapa.
Hidup memang akan terasa lebih indah jika kita senantiasa mau bersyukur, bukankah begitu? Jangan menyerah dan tetaplah melakukan yang terbaik, untuk hidup kita ;).

Don’t Give UP September 18, 2009

Posted by ranystarry in Inside my mind.
1 comment so far

D’Masiv – Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Tentang Indonesia dan Malaysia September 14, 2009

Posted by ranystarry in Inside my mind.
Tags: , ,
3 comments

Hari itu aku memasang gantungan kunci bergambar bendera Malaysia di kunci kamarku. Gantungan itu oleh-oleh dari temanku Ana yang sedang kuliah di Malaysia setahun yang lalu. Dia memang yang paling sering bawain aku oleh-oleh (makasih ya na.. :D).

Ternyata, di hari itu orang-orang masih terkena euphoria nasionalisme akibat iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan beberapa unsur kebudayaan Indonesia. Termasuk mbak Devi yang berkomentar seperti ini padaku, ‘Tia kok pasang gantungan kunci itu sih.. Malaysia kan udah jahat sama Indonesia.. Pakai gantungan kunci yang lain aja..’. ‘Iya ya mbak? Yaudah deh tak copot aja..,’ kataku. (gedubrak!!)

Entah aku tidak punya rasa nasionalisme atau bagaimana, tapi sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan konflik yang terjadi antara dua negara yang bertetangga itu, Indonesia dan Malaysia. Aku tidak mengikuti perkembangan beritanya, bahkan aku tidak berusaha mencaritahu tentangnya. Dan aku tahu pun itu karena banyak orang-orang di sekitarku yang membicarakannya. Aku pun cukup mengamati dan jadi penonton saja (sebelum dibilang payah, aku harus mengakui bahwa aku memang payah kok =p).

Menanggapi kejadian tersebut, banyak orang yang langsung tersulut emosinya. Langsung men-judge bahwa Malaysia salah, Malaysia kok suka banget sih nggangguin Indonesia, lagi-lagi bikin ulah. Belum-belum udah teriak ganyang seenaknya. Apa aku harus bersikap seperti itu juga? Tapi apa bedanya? Bukankah sudah banyak yang begitu, nanti cuma bikin tambah heboh saja, tapi hasilnya.. (maaf) NOTHING. Enggak salah sih menunjukkan kepedulian dengan bersikap seperti itu, berarti kan tandanya punya rasa nasionalisme, dan itu hal yang positif. Tapi, aku pernah denger nih sebuah kata-kata yang wise, bahwa ternyata.. ‘Penyakit peninggalan kolonialisme itu masih ada, mudah sekali diadu domba..’. Dan emang bener kan, lagi-lagi itu terjadi. Mudah diadu domba, sudah emosi duluan sebelum menelaah fakta yang sesungguhnya. Dan karena aku gak tau faktanya nih.. makanya aku gak mau ikut-ikutan emosi tanpa alasan yang jelas.

Di sisi lain, justru ada yang menyorot sikap/reaksi orang-orang Indonesia tersebut. Nggak rela kebudayaannya dicuri tapi dirinya sendiri nggak pernah ikut melestarikan.. Baru peduli setelah ada konflik kayak gitu.. TELAT! Seumpama aja nih, kebudayaan atau segala pokok permasalahan konflik itu bisa ngomong, bisa milih, tak kira dia bakal milih pihak yang peduli sama nasibnya, sama kelestariannya. Ngapain juga bertahan sama pihak yang udah nggak mempedulikannya? Mo nunggu punah? Manusia juga kebanyakan gitu kan..

Tapi ada juga yang menjadikan konflik ini sebagai sarana intropeksi diri. Nggak usah saling musuhan deh. Mungkin Malaysia emang salah sama Indonesia, tapi bukannya Indonesia juga punya salah ya ke Malaysia? Banyak tuh TKI (Tenaga Kerja Indonesia) illegal di Malaysia. Jadi sebaiknya keduanya saling menjaga etikanya masing-masing.

Kemaren waktu buka bareng sama Ana, mas Taufiq, Mutia, dan Ali.., mas Taufiq cerita dia pernah baca kalau lagu Terang Bulan yang pernah jadi konflik antara Indonesia dan Malaysia itu ternyata udah diciptakan sekitar tahun 1800-an/1700-an sama musisi Eropa (lupa tepatnya mana) dalam bahasa Melayu. Selain itu juga istri temannya mas Taufiq yang dari fakultas hukum UGM juga pernah meneliti tentang konflik pulau Sipadan dan Ligitan, dan menurut hasil penelitiannya, sebelum adanya konflik, kedua pulau tersebut tidak masuk di dalam peta wilayah Indonesia. Dari konflik-konflik tersebut, Indonesia dan Malaysia seakan-akan dapat sindiran, ‘Sesama pencuri DILARANG saling mendahului!’. (Nah lho??)

Eh ya, tulisanku ini gak usah dikritik ya, ini cuma masalah cara pandang aja kok. Aku gak mau memperkeruh suasana yang sudah keruh, hehehe. Semoga bermanfaat.

Jangan Males September 5, 2009

Posted by ranystarry in Inside my mind.
3 comments

Jangan males!

Jangan tidur mulu!

Jangan ngenet mulu!

Belajar yang rajin!

Beribadah yang rajin!

Hidup yang teratur!

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh. (kata W.S. Rendra)

Hidup adalah perjuangan yang harus dihadapi dengan senyuman, walaupun melelahkan ;D. (kata Noerma)

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik! (kata de Massive)