jump to navigation

High Standard, Perfeksionis July 3, 2009

Posted by ranystarry in Inside my mind.
trackback

Perfectionist

Aku jadi begini karena lingkungan yang membentukku. Aku tumbuh, bergaul dengan orang-orang di sekelilingku. Saat aku SD, SMP, aku percaya akan semua hal yang dikatakan oleh guruku. Aku tidak membantah. Saat di bangku SMA, aku mulai merasakan subyektifitas yang jamak aku temui. Dari mulai perihal nilai pelajaran, pertemanan, dan banyak kebijakan lainnya.. Aku mulai bisa menilai, aku belajar memberontak!
Aku menerima hal-hal yang sesuai dengan pertimbangan akalku. Aku bisa memilih dan membedakan sendiri tanpa didikte lagi. Aku sendirilah yang membentuk diriku. Tapi jangan lupa, aku dulu pernah didikte, aku pernah dibentuk oleh orang-orang di sekelilingku, mereka mempengaruhiku sampai saatnya aku bisa menilai sendiri.
Aku punya standar tinggi. Standar itu tidak hanya aku terapkan pada orang lain, tapi juga pada diriku sendiri, aku kadang kewalahan dengan standar itu, tapi aku gak mau cuma jadi orang yang omong doang, bukankah begitu? Aku bertanya sama mamakku, sejak kapan aku jadi seseorang dengan standar tinggi seperti ini? Dia bilang sejak aku SMA, sejak aku sekolah di kota, bergaul sama anak-anak kota! Kalau dipikir, memang benar. Saat itu kehidupanku berubah drastis, aku berteman dengan anak-anak kota, yang kebanyakan adalah anak orang kaya, orang tua mereka kaya, mereka terbiasa mendapatkan sesuatu yang terbaik, mereka dibentuk seperti itu!
Teman-temanku bercerita, aku mendengarkan. Mereka membahas sesuatu hal yang tinggi menurut ukuranku karena aku berasal dari keluarga yang biasa saja. Aku ini anak dari desa yang beruntung bisa sekolah di kota, di SMA favorit lagi, betapa beruntungnya aku. Telingaku sudah terbiasa mendengarkan cita-cita mereka yang tinggi, tentang pendidikan yang terbaik, tentang prestasi, tentang eksistensi diri. Aku tidak minder berteman dengan mereka, malahan aku merasa senang, setidaknya kemampuan otakku bisa mengimbangi otak mereka, bisa mengimbangi mereka yang terbiasa dengan semua fasilitas yang lengkap, aku terjerumus ke dalam sebuah lingkungan yang menjunjung tinggi prestise, itulah faktanya! Perubahan ini tidak aku rasakan, dia masuk perlahan, menyatu dengan diriku, mungkin untuk selamanya, susah mengusirnya, sampai ada yang berteriak, “Tia, turunkan standarmu itu!!”.
Perfeksionis. Saling mendukung dengan sifat standar tinggi tadi. Perfeksionis. Kalau yang ini, aku tidak tahu bagaimana dia bisa ada di dalam diriku. Dia sudah ada begitu saja, dan pupuk-pupuk itu membuatnya semakin tumbuh subur. “Hmm, kalau nilai matematikaku dapat 100, aku dapat hadiah kan? Susah lho dapat nilai 100..,” kataku. Mamakku mengiyakan. Aku dapat hadiah, itu di awal-awal, lama-lama akunya jadi bosan.. Lha, aku sering dapat nilai 100 di pelajaran matematika. Aku harus benar-benar memahami materinya, aku gak boleh salah itung, ini soal gampang, gak seperti soal-soal olimpiade itu, setidaknya.. aku harus benar semua! Dulu pola pikirku terbentuk seperti itu. Salah gak sih? Do your best, and you will get the best. Lha aku hanya mengadopsi kata-kata itu. Tapi ya aku sering memberontak juga terhadap masalah ini..
Masalah nilai (yang tak maksud disini ya nilai pelajaran) sebenernya aku tidak terlalu ambisius.. Walaupun aku pernah menangis sewaktu aku dapat nilai jelek, itu semata-mata bukan karena masalah nilainya, tapi lebih ke masalah kecewa terhadap diriku sendiri, kenapa aku sebodoh itu. Kalau aku memang bisanya segitu ya gak masalah kalau aku dikasih nilai jelek, yang penting itu emang usahaku sendiri. Masalah nilai-nilai matakuliahku bagus, itu semata-mata bukanlah ambisiku, aku bukan seorang pengejar nilai. Tapi keadaan yang menuntutku harus begitu. Kalau IPKku di bawah 3.5, itu berarti aku gak dapat beasiswa penuh. Aku harus mikirin orang tuaku juga kan yang mencari uang untuk aku. Hidup di Bandung saja sudah mahal! Kadang itulah satu-satunya alasan kenapa aku harus dapat nilai bagus.
Akan tetapi, aku gak perfeksionis sepenuhnya.. Kadang aku membiarkan saja semuanya berjalan tidak sesuai kemauanku, bahkan aku sering memberontak, untuk apa aku mendapatkan nilai-nilai tinggi itu? Untuk apalagi.. Aku hanya bisa seperti ini, I’m not a perfect person.

Comments»

1. mawi wijna - July 3, 2009

masak dirimu perfeksionis? tapi dirimu juga mau menderita kok. Kemarin itu buktinya. Hooo, tentu ada yg tidak dirimu ceritakan :)

lha kan saya bersembunyi di balik topeng innocent ini, he3.
kapan2 kita cerita2 lagi mas wijna..!!

2. furqoon - July 7, 2009

wah
temen2 kota yang perfeksionis
ehehe

kamu itu yang ngajarin aku punya standard yang tinggi..
aku gak bilang temen2 kota perfeksionis lho..