Gaya Komunikasi, Penting untuk Dikenali March 27, 2009
Posted by ranystarry in Inside my mind.trackback
Komunikasi merupakan hal penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan komunikasi kita dapat mengemukakan ide-ide yang kita miliki. Selain itu, kita juga dapat saling bertukar informasi dengan orang lain. Walaupun kelihatannya mudah, pada praktiknya, kita harus menguasai teknik-teknik dalam berkomunikasi agar komunikasi yang kita lakukan bisa efektif.
Bentuk-bentuk dari komunikasi sendiri ada banyak. Komunikasi tidak melulu harus dengan berbicara. Menulis juga termasuk berkomunikasi, bahkan sesuai yang disampaikan oleh Bapak Erwin Kurnia Wijaya dalam kuliah Studium General Teknik Informatika IT Telkom, menurut beliau tepuk tangan juga termasuk salah satu jenis komunikasi. Beliau juga menyampaikan bagaimana teknik tepuk tangan yang baik, yaitu: telapak tangan saling bersilang/tidak sejajar waktu kita bertepuk (agar dihasilkan tepuk tangan yang keras), disertai senyum, anggukan kepala, hentakan kaki, dan ucapan ‘yee..’. Lain halnya jika kita bertepuk tangan biasa, tanpa tersenyum sedikit pun, disertai ucapan ‘huu..’, tentu rasanya beda kan? Jika kita adalah pihak yang diberikan tepuk tangan, tentunya kita akan lebih menyukai jenis tepuk tangan yang pertama.
Agar kita dapat melakukan komunikasi yang efektif dengan orang lain, ada baiknya kita mengenali gaya komunikasi dari orang tersebut. Berdasarkan representational system (kanal informasi neurologis yang paling disukai) ada 3 jenis gaya komunikasi, yaitu visual (berpikir dengan modus gambar), auditorial (berpikir dengan modus suara), dan kinestetik (berpikir dengan modus perabaan/perasaan). Tiap gaya mempunyai ciri khasnya masing-masing.
Seseorang dengan gaya komunikasi visual, mempunyai ciri antara lain: melakukan kontak mata yang baik selama percakapan, sering melihat ke atas jika mengingat sesuatu, menggunakan pandangan untuk menyampaikan sesuatu, berdiri tidak terlalu dekat dengan lawan bicaranya, suka menggunakan “bahasa penglihatan” seperti ‘kelihatannya’, dan sering membuat coretan/gambar. Orang dengan gaya visual jika berbicara cepat, pandangan mata ke atas, bernafas dengan dada. Biasanya orang dengan gaya ini apabila belajar tidak terganggu dengan suara.
Seseorang dengan gaya komunikasi auditorial, mempunyai ciri antara lain: tidak melakukan kontak mata selama percakapan, sering mengoreksi struktur kata/ejaan/pilihan kata yang digunakan, suka melakukan permainan kata-kata, kemudian sering menggunakan “bahasa pendengaran” seperti ‘kedengarannya’. Mereka berbicara dengan tempo yang ritmis, pandangan matanya ke tengah, dan pernafasan dengan dada-diafragma. Orang dengan gaya ini biasanya butuh suasana tenang untuk belajar.
Sementara itu seseorang dengan gaya komunikasi kinestetik mempunyai ciri antara lain: jika bercakap-cakap melihat ke bawah, memperhatikan kenyamanan dalam berpakaian, membuat keputusan hanya jika sedang merasa pas, dan suka menggunakan “bahasa perasaan dan perabaan” seperti ‘merasa, emosi, tenang, frustasi, tertekan, malu, gugup, kesepian, santai, stress’. Orang dengan gaya ini jika berbicara lambat, mata melihat ke bawah, dan bernafas dengan perut. Mereka aktif bergerak dan tidak bisa duduk terlalu lama.
Studi mengenai daya tangkap dalam komunikasi oleh Albert M. menyatakan bahwa 55% dipengaruhi oleh body language (bahasa tubuh), 38% oleh voice tone (nada suara), dan 7% oleh words (kata-kata). Agar dapat menghasilkan daya tangkap yang bagus maka harus kongruen antara fisiologis, mutu suara, dan kata-kata
Di samping itu ada beberapa teknik yang dapat diterapkan dalam berkomunikasi. Yang pertama adalah pacing-leading. Pacing artinya menyesuaikan. Perlu kita pahami bahwa biasanya orang cenderung suka terhadap seseorang yang sama dengannya. Teknik ini bisa kita terapkan antara lain pada saat lawan bicara kita berbicara sambil duduk maka kita juga menyesuaikan dengan duduk. Ini hampir mirip dengan mirroring, namun hindari meniru bahasa tubuh yang negatif atau meniru gerakan-gerakan secara mendadak. Setelah itu kita mulai menjalin keakraban dengan orang yang kita ajak berkomunikasi. Setelah akrab barulah kita bisa mulai leading atau mengarahkan. Pacing pada umumnya bergantung kepada hobi, kebudayaan, maupun segi akademik. Bagi mahasiswa adapula cara menyesuaikan terhadap gaya dosen yang berbeda-beda. Jika menghadapi dosen dengan gaya visual maka pahamilah bahwa yang terpenting adalah menunjukkan hasil kerja kita, dosen dengan gaya auditorial biasanya akan suka jika kita pandai menceritakan/menyampaikan gagasan, adapun dosen dengan gaya kinestetik, baginya yang terpenting adalah hasilnya. Teknik yang kedua adalah creating trust. Antara lain meliputi: open body language, smile naturally, facial expressions, have good eye contact, touch occasionally, say yes-yes, watch the body language.
Sangat penting bagi kita untuk memahami dasar-dasar berkomunikasi ini. Dengan komunikasi yang baik maka peluang untuk meraih sebuah kesuksesan akan semakin besar. Jadi, jangan takut untuk berkomunikasi!

PERTAMAAAAXXX….
Wah Tia, blogmu kok jd gelap gini toh? Menyeramkan. Hehehe……
bismillah
wah, ini sih mata kuliah saya di kampus mbak
bismillah..mbak coba mbak jawab ya…
mengapa orang yang marah pasti berteriak?
ayo ayo..udah dipikirin jawabannya???
simpan dulu ya..trus yak temukan jawabannya di blog ku…
relawanmuslimah.wordpress.com
bismillah
begini nih manusia,, pikirannya komersil mulu.. bawaannya self oriented.. ckckck…positif lah mbakkk :mrgreen:
hellooo…
gima yach gaya komunikasi yang efektif bagi seorang pimpinan dalam meningkatkan kinerja karyawwannya yah???
oh yach,,mau nanya refensi buku gaya komunikasi apa yah??and pengarangnya siapa yah??
thanks before ya,
Success
hallooo
saya minta solusi nich.. menurut anda gaya komunikasi PPL itu bagai mana? dan yang termasuk kedalam gaya komunikasi itu apa apa saja ya? tolong di balas ya kl bisa skr ya..thnks ya..